Black-Forest [satoe]

150918110559-negative-interest-rates-780x439

Tidak semua yang terjadi dalam hidupku ini negatif. Cukup banyak juga hal berguna hasil dari kerja keras yang aku lakukan. Sekali-kali boleh-lah aku juga mencoba rasa baru, suasana baru, dan diberi dukungan, juga dimengerti. Seperti black-forest yang katanya enak itu. Kue bolu coklat, dilapisi krim segar, dengan serutan coklat dan buah ceri merah di atasnya. Kurang-lebih begitulah sosok orang yang kukagumi saat ini. Kulitnya hitam manis, bibirnya yang selalu merah, serta wajahnya yang selalu segar-ceria. Tapi belakangan ini dia jarang tersenyum lagi kepadaku, dan itu sudah cukup membuatku tersiksa. Seseorang berbisik kepadaku, ‘bukakanlah pintu untuk tamu yang baru’, carilah pengganti. Tapi dunia ini sudah dipadati dengan orang-orang yang tidak punya komitmen dan terkhianati.

Advertisements

Mama, How are You Today [Delapan]

Dengan ketakutan dan tak pikir panjang lagi aku keluar dari kantor langsung menuju rumah sakit. Selama di jalan aku menelpon adik laki-lakiku, yang katanya sudah terlebih dahulu tiba disana, untuk meyakinkanku benar-tidaknya berita ini. Aku takut berita ini keliru, dan aku berharap ini keliru. Adikku memang sudah berada di rumah sakit, dan dia bilang mama masih tidak sadarkan diri. Aku membisu. Aku berlari menuju ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat). Perasaan cemasku bertambah hebat saat melihat memang mama-lah yang terbaring disana. Aku teringat tadi malam, aku masih sempat pamit saat mau pergi transfer uang ke ATM. Saat itu mama sedang berbicara dengan seseorang di telpon, entah dengan siapa, dan dia terlihat sangat bahagia.

(Source image: google.com)

Mama, How are You Today? [Toedjoeh]

FallenLady

Buru-buru aku keluar ruangan untuk menelpon ayah, sambil mencari signal hp di sekitar teras kantor. “Tidak bisa dihubungi”, kataku dengan nada yang lagi-lagi menyalahkan signal. Temanku itu diam, tetap dengan tatapannya yang tidak puas. Ponsel-ku kembali berdering, dan kali ini adik iparku yang menelpon. Aku langsung membenarkan kecurigaan temanku tadi, yang mengira mertua adikku sakit lagi, karena memang sudah seringkali keluar-masuk IGD dengan penyakit asma-nya. “H-halo”, jawabku sedikit ragu. “Halo Oom”, suara Putri, ponakan adik iparku, “Nenek masuk Rumah Sakit, Oom. Sekarang di ruang IGD. Katanya tadi jatuh di kamar mandi. Nenek koma, Oom”. Aku tercengang. Bukan main terkejutnya aku. “Bang, Mama jatuh di kamar mandi. Kini di IGD Rumah Sakit. Koma”.

(source image: google.com)

Mama, How are You Today? [Enam]

iphone-6s-09

Aku pun melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda yang kutinggalkan beberapa hari yang lalu disini, sambil sesekali berdiskusi dengan mereka. Sedikitpun aku tidak merasakan bahwa akan terjadi sesuatu yang luar biasa, yang akan merubah kehidupanku kedepan. Sekitar jam 1 siang, tiba-tiba ponsel-ku berdering sebentar, lalu kemudian mati. “Dari siapa?”, tanya temanku yang langsung mendekat, tidak biasanya dia bersikap curiga seperti ini. “Ayah nelpon, tapi langsung putus”, jawabku seraya meletakkan kembali ponsel di atas meja, “mungkin jaringan, signal-kan agak susah disini ya”. “Telpon balik”, katanya lagi dengan tatapan penuh perintah, “jangan-jangan mertua adik-mu masuk rumah sakit lagi”, katanya.

(source image: google.com)

Mama, How are You Today? [Lima]

066143900_1450694902-phone_custom-802d84296db09eb55afba2c04b6a33797692100e-s800-c85__npr.org_

“Halo, Bang! Masih di kantor?”, aku menelpon temanku itu, “Kalau belum pulang, aku mau main kesitu”, kataku lagi. “Iya, datanglah, kami lembur sedikit nih”, jawabnya sambil tertawa. Perlahan kutancapkan gas, melaju ke arah bukit dimana kantornya berada. Tak lama aku tiba di area peternakan sapi bali seluas 5 hektar, yang di sekelilingnya menyajikan pemandangan seperti Telenovela. “Mau ngopi?”, tawarnya saat aku masuk ke ruangan. Mereka sungguh-sungguh masih sibuk bekerja menyelesaikan laporan bulanan. “Tadi sudah ngopi di rumah”, jawabku sambil meletakkan barang-barangku di atas mejaku. Ya, ini kantorku yang kedua, dimana aku juga punya meja kerja di kantor ini. Bekerja disini lebih asyik dan bisa lebih konsentrasi karena suasananya yang mendukung.

(source image: google.com)

Mama, How are You Today? [Empat]

o-STARTUP-facebook-1-750x422

Selama berkendara, pikiranku kemana-mana. Memikirkan banyak hal yang lucu dan aneh disekitarku. Tak jarang aku tertawa sendiri mengingat obrolanku dengan Mama beberapa hari ini. “Lho, ngantor juga? Tanggung lah, bentar lagi kita pulang lho”, goda temanku ketika aku memasuki ruangan. “Yaaah, di rumah juga nggak ada kerjaan”, jawabku sekenanya. Seperti biasa, aku bekerja sambil ber-senda-gurau dengan beberapa teman yang seruangan denganku, sampai pukul 11 yang menandakan waktunya kami pulang. Biasanya aku langsung pulang ke rumah untuk sholat Jum’at di Mesjid Muhammadiyah yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Tapi ditengah perjalanan aku menghubungi teman kantorku, yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri.

(source image: google.com)

Mama, How are You Today? [tiga]

images

Sebelum berangkat ke kantor, aku memeriksa dompet mama, mencari kunci yang dia inginkan tadi. Aku menemukan kuncinya, tapi kemudian aku berubah pikiran sewaktu melihat ayahku melintas di depan kamar. “Ayah nanti mau pergi nggak?”, tanyaku. Ayahku menggelengkan kepalanya. Akhirnya aku memutuskan tidak jadi mengantarkan kunci rumah ke sekolahan mama, karena ayah ada di rumah saat mama pulang kantor jam 11 nanti siang. Ayahku pensiun sudah hampir 2 tahun. Dia juga dulunya seorang guru. Dia menikmati masa pensiunnya dengan lebih banyak beraktifitas di rumah. Setelah pamitan ke ayah, aku mulai menyusuri jalanan yang biasa kutempuh menuju kantorku dengan kendaraan pribadi.

(source image: google)