Novel – Galaksi [Sepoeloeh]

mendung

Aku sadar betul, saat ini kami hanya berteman. Tidak kurang, juga tidak mungkin lebih. Meski begitu, perhatianku padanya sangat menyeluruh. Bulu matanya yang lentik, yang mencakar-cakar udara malam ketika berkedip, membuatku salah tingkah. Memikirkan senyumnya setiap sebelum tidur dan bangun tidur, seperti merasakan mendung tanpa harus menatap langit, membuat galau, tapi sangat dirindukan oleh padang pasir. Kalau boleh, setiap minggu aku ingin mengunjunginya di langit sana. Rasanya seperti berabad-abad kalau beberapa hari saja tidak bertemu dengannya, karena setiap hari kami sibuk masing-masing. Aku sibuk menjahit awan yang dikoyak petir, sedangkan dia sibuk mengatur planet-planetnya agar tidak merengek-rengek. Sebentar saja dia sudah tiba di pasar traditional, membeli tepung bintang.

(source image: google.com)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s