Novel – My Dreams Will Come True [Enam]


Musim hujan bulan ini cukup ekstrim. Beberapa lokasi dilaporkan mengalami musibah banjir. Meninggalkan luka di hati, dan sampah di lingkungan. Sampah plastik, sampah masyarakat, lumpur dan tanah, serta tissue bekas. Hari itu, entah bagaimana, hanya ada dua sapi di peternakan berkelas di kota yang juga korban banjir. Sebenarnya peternakan itu belum layak dapat bintang, meskipun punya fasilitas kolam renang untuk sapi, tapi kamar ganti dan kamar bilasnya sebelas-duabelas dengan tpu, tempat pemandian umum di negara kerbau. Diskusi ringan baru saja diakhiri dari dalam kamar ganti antara dua sapi. Sapi yang buntutnya panjang berjalan keluar meninggalkan sapi buntung yang sibuk mengumpulkan tissue bekas yang berserakan di lantai dengan mulutnya, diantara lumpur dan sampah sisa banjir. Sapi berbuntut berjalan melenggak-lenggok memamerkan pantat hitamnya bak model catwalk, melintasi kolam renang, menuju kandangnya. Ekornya yang panjang disibakkan hingga menggantung di pundaknya, yang membuat iri dan decak kagum si buntung. Tak lama pintu kandang terbuka. Si ekor panjang berjalan keluar, dengan kepala mendongak ke arah langit. Seperti anjing jantan angkuh yang berlagak penguasa wilayah, ia mulai mengambil posisi kencing, ke arah kolam renang. Dia lupa, kalau dia adalah seekor sapi, bukan anjing. Si buntung menjadi geram, ia lalu menarik ekor si angkuh ketika berada di kamar bilas. Si angkuh sontak marah-marah tak jelas. Sapi Tidak Wajib Bunting.

(source image: google.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s