Novel – Mata Emas [Empat]

IMG_0647

[penyihir gendut] Banyak hal dilakukan para penyihir disini yang menusuk-nusuk hati rakyat jelata. Mereka seringkali tertawa dengan renyahnya padahal suara merintih terdengar dimana-mana. Mereka juga tidak pernah capek untuk selalu melukis kebohongan demi kebohongan untuk di dengar oleh orang-orang. Tidak pernah capek melakukan kejahatan yang begitu rapi. Padahal para rakyat sudah merasa sangat muak dengan semua ini. Mereka semakin gendut dan gembrot, sementara rakyat semakin kurus dan ceking. Perut mereka sudah semakin melimpah ke kiri dan ke kanan. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang rakyat mau saja dibodohi, atau sebenarnya mungkin memang bodoh, dibujuk dengan gula-gula rasa jeruk. Manis yang hanya sesaat, pahit yang menahun. Padahal, kalau saja rakyat sedikit cerdas menolak gula-gula, para penyihir pasti merengek-rengek agar mereka mau menerima gula-gula rasa jeruk itu. Tak perlu heran jika melihat penyihir seperti mabuk, mabuk harta dan kekuasaan. Mereka seperti selalu kelaparan. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak pernah merasa cukup. Aneh tapi sudah biasa. Jangan-jangan mereka sendiri sudah lupa kalau mereka juga adalah rakyat jelata, dulunya.

(source image: google.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s