Novel – Arapenta [Delapan]

lelaki-masalah-01Aku percaya, dengan berbuat sesuatu cintaku akan terbalaskan. Selama ini aku sudah memulai dengan gerakan menghindarinya dari setiap sudut ruangan di rumah itu. Tentu saja harapanku agar dia bertanya-tanya, ada apa denganku. Aku mulai menghitung hari, dan usahaku berhasil. Bahkan penghuni rumah lainnya merasa heran, “Ada apa klen berdua? Seperti musuhan aja kurasa. Ada salah apa kau?”. “Nggak ada apa-apa-nya, Mak. Aku pun tak tau ada masalah apa”, bantah Ara. Aku menguping pembicaraan mereka di ruang makan dari kamarku di lantai atas. Anggaplah aku tidak ada disitu, mereka berbisik tapi berisiknya bukan main. Wajar saja mereka merasa aneh, karena dulu kami begitu akrab, sebelum perasaan suka di hati ini tumbuh semakin besar setiap harinya, sampai terasa mencekik leher.

(source image: google.com)

Advertisements

Novel – Arapenta [Toedjoeh]

tidur-siang-sesaat-dapat-banyak-manfaat-big-210Aku memimpikannya setiap malam, selama berhari-hari. Di kantor aku sering melamunkannya setiap senggang. Selama menyetir di jalanan sore itu, aku termenung. Aku berfikir untuk mengungkapkan perasaanku padanya, agar dia tahu betapa berat aku memikul perasaan ini sendirian. Mungkinkah aku sanggup melakukannya. Hal bijaksana yang kulakukan selama ini adalah menghindar. Pintu depan berderit pelan ketika aku memasuki halaman rumah. Ara muncul mengirimkan senyum termanis yang ia miliki. “Baru pulang, Bang?”, sapanya dengan sangat ramah. “I-iya. Kamu nggak kuliah, Ra?”, aku bertanya sedikit gugup. Hatiku seketika terusik untuk membatalkan rencanaku tadi. Kenapa Ara yang keluar, membukakan pintu untukku. Kenapa tidak Kak Rin atau Ibu atau siapa sajalah. Aku tidak siap.

(source image: google.com)

Novel – Arapenta [Enam]

1067471_90400550-lowres4Dia sudah menghadirkan cinta dan kebahagiaan ke dalam hidupku sedemikian rupa selama Aku tinggal di rumahnya. Aku ragu dia mampu menterjemahkan perasaanku. Aku membutuhkan dia lebih dari sekedar teman. Lebih dari sekedar adik angkat. Lebih dari sekedar teman ngobrol saat makan tengah malam dan sebelum tidur. Seringkali otakku berfikir, seberapa besar persentase peluangku untuk mendapatkan hatinya. Akankah perasaanku ini terbalaskan. Dengan melihat senyumnya, habis sudah rasa penatku sebagai manusia. Seumpama dia belum pulang dari kuliah malam, senyuman di foto yang tertempel di ruang tamu pun cukup. Aku tidak akan terburu-buru untuk keluar dari bayang-bayangnya.

(source image: google.com)

Novel – Arapenta [Lima]

couple-in-parkIni kasus serius, karena Aku tidak pernah begini sebelumnya. Aku rela melakukan apapun untuk menjadikan dia sebagai pasanganku. Aku punya penilaian sendiri terhadapnya. Dia mempunyai kadar daya tarik tertinggi bagiku. Kulitnya? Jujur saja jauh dari sebuah warna putih yang di dewa-dewakan oleh produk perawatan kulit. Aku belum pernah melihat bagian tubuhnya yang berwarna terang, kecuali giginya yang putih ketika dia tersenyum khusus kepadaku. Pada akhirnya, perasaanlah yang berbicara, bukan hanya tampilan fisik, memang terdengar kurang realistis. Aku merasa cocok dengannya. Hati dan jiwaku menyimpulkan sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan secara verbal atau visual. Dibutuhkan keberanian yang sangat besar dan waktu yang tepat hingga akhirnya Aku memahami cara menyesatkannya secara tepat.

(source image: google.com)

Novel – Arapenta [Empat]

liburanMereka mungkin berfikir kalau Aku butuh liburan agar Aku lebih bahagia, daripada melihat-lihat bangkai di ruang patologi setiap hari. Mukaku sering terlihat pucat putih bergambar murung setiap pulang kantor. Mereka tidak tahu dan tidak pernah bertanya kalau Aku sebenarnya butuh perhatian lebih dari cukup. Waktuku sering kulewatkan dengan melamunkan pujaanku yang tinggal serumah denganku, tapi serasa berkilo-kilometer jauhnya. Seharusnya Aku merasa bahagia, paling tidak untuk sementara selama Aku di rumah, dan dia juga di rumah. Singkat kata, Aku tersiksa dan merasa sendirian disini, jauh dari orangtua dan keluarga, dan dia berhasil menelantarkanku untuk mendapatkan cinta.

(source image: google.com)

Novel – Arapenta [Tiga]

lelahHari ini Aku pulang kantor dengan perasaan seperti selembar kertas tipis yang melayang-layang ditiup angin dari knalpot mobil truk, begitu kumal dan lecek. Aku bekerja di perusahaan asing ini hanya sekedar mencari identitas. Banyak sarjana yang menjadi pengangguran beberapa tahun setelah mereka tamat kuliah, dan Aku tidak ingin mewakili teman angkatanku menambah daftar panjang itu. Orang urban mungkin akan mengatakan: “Lihat. Perubahan apa yang bisa dilakukan sarjana-sarjana belum siap pakai ini, mengikuti kecepatan zaman?”. Tapi orang-orang dikampung akan mengatakan: “Lihat. Ujung-ujungnya sarjana-sarjana ini mengikuti jejak orangtua mereka. Ke sawah”. Aku adalah harapan orangtua dan lingkungan. Sulit rasanya lepas dari ekspektasi orang lain. Setelah bekerja, Aku merasa seperti terpenjara secara halus. Bekerja dibawah tekanan dianggap sebagian orang sebagai sikap yang profesional dan loyal kepada perusahaan. “Malam kali pulangnya. Itu teh manis yang kakak buat sudah dingin”, ujar Kak Rin dari balik kamarnya.

 

(sourceimage: google.com) 

Novel – Arapenta [Doea]

smile-01Aku tidak pernah sekalipun melihat dia marah. Pernafasannya selalu tampak teratur dan dalam. Tubuhnya bergetar karena selalu dalam kondisi bahagia. Tekanan darahnya hampir selalu sama. Pikirannya tenang, mendekati kematangan orang dewasa, dan Aku lebih tua darinya. Seharusnya Aku merasa nyaman berdekatan dengannya. Suasana di rumahnya, tempat Aku berteduh selama berbulan-bulan, selalu membangkitkan kembali semangat yang drop karena kejenuhan di kantor. “Eh,… Anak Mamak sudah pulang. Capek, sayang?”, begitu sambut Ibunya. “Sudah pulang, Bang”, sapanya. “Itu teh manisnya sudah Kakak buatkan, di atas meja’, sambut bibinya. “Makan dulu. Makan dulu”, kata Bapaknya. Setidaknya, pada level perhatian tersebut Aku layak merasa bahagia. Hampir setahun Aku bersama mereka, tidak ada hari-hari yang kulewati dengan mengheningkan cipta. Harusnya Aku merenung, kontribusi apa yang bisa kuberikan selain biaya sewa uang bulanan. Setidaknya Aku mengambil porsi keceriaan itu, bukan sibuk sendiri dengan perasaanku.

(source image: google.com)