Novel – Burning Memory [Toedjoeh]

Nenek2Nenek sangat mencintai kami semua, terutama cucu-cucunya. Bagiku, nenek adalah inspirasiku. Cinta yang ia berikan murni dan belum tergantikan, nyaris mengalahkan cinta orangtuaku. Aku teringat masa kecil dulu, kami sering duduk-duduk dan bergelut di tepi danau menatap langit senja, dengan sepiring kue buatan nenek. Nenek sangat pandai memasak. Aku sering minta dibuatkan srikaya, sejenis kue ketan yang dikukus berbentuk segitiga, dibungkus daun pisang, dan disiram saus gula. Rasanya manis dan enak sekali. Nenek tersenyum kalau kami minta tambah. Nenek adalah orang yang paling gembira ketika kami tiba untuk berlibur di kampung halaman. Nenek jugalah yang paling repot menyiapkan oleh-oleh kalau kami harus balik. Aku sering menangis ketika saatnya harus berpisah dengan nenek saat liburan sekolah berakhir.

(source image: google.com)

Advertisements

Novel – Burning Memory [Enam]

Konsultan PerkawinanKehidupan perkawinan tanteku yang bernama Diana gagal dua kali. Dua kali pula kedua mantan suaminya tidak sanggup berkomitmen setia hingga akhir nanti. Dia berpisah dengan suami pertamanya karena KDRT dan suka main judi. Sedangkan dengan suami yang kedua karena ternyata punya istri tua yang masih sah, yang tidak mau diceraikan. Satu-satunya ikatan yang masih tersisa adalah anak-anak mereka. Satu suami, satu anak. Anehnya, mereka berpisah ketika anak-anak itu sama-sama masih balita, yang tentu saja masih sangat haus dengan kasih sayang seorang ayah. Ini sungguhan terjadi. Satu hal yang bergaung di kepalaku, bahwa hidup tidak selamanya indah. Ketentraman dan kenyamanan batin yang diharapkan dari sebuah perkawinan tidak dapat diraih oleh tanteku. Tapi bukan berarti aku bercermin dengan kehidupan perkawinan tanteku ini, lantas saja aku jadi takut untuk menikah.

(source image: google.com)

Novel – Burning Memory [Lima]

kakekRasanya hanya aku dan adik-adikku, juga sepupu-sepuku yang tidak dekat dengan pria tua ini. Berbeda sekali dengan cerita yang sering kubaca di majalah anak-anak, buku pelajaran sekolah, atau sinetron di tv, bahwa figur kakek adalah seorang yang penyayang dan tempat bermanja. Aku tidak main-main, kakekku sangat galak, menurutku. Orangnya sangat tegas dan keras kepala. Aku yakin saudara-saudaraku yang lain juga sependapat denganku. Dia penuh dengan peraturan, sementara kami punya banyak teman khayalan yang ingin mengajak kami untuk bermain sepanjang waktu, bahkan ketika tidur. Awalnya kakek marah hanya kalau kami terlalu nakal. Tapi kemudian, dia mulai sering menampakkan kerutan di keningnya ketika melihat kami bergelut di kamar, di ruang tamu, di teras, di halaman, atau saat berenang di danau.

(source image: google.com)

Novel – Burning Memory [Empat]

buruh-bangunan-_110805142508-285“Sudah Aku putuskan”, kata adik laki-laki ibuku yang paling tua sambil berlalu menuju dapur, sepertinya dia lapar. Ibuku segera menyusul. “Uni tidak akan memaksa karena ini sepenuhnya pilihanmu”, kata Ibuku, “Tapi Uni hanya menyayangkan masa depan Kamu”. “Tidak ada gunanya dipaksakan lagi, Uni. Uni kan sudah kenal Aku”, dia meletakkan gelas minumannya, “Bahkan otakku semakin hari semakin tumpul kalau Aku terus berada di sekolah. Aku mau bantu Bapak aja, cari uang”, ujarnya sambil nyengir berlagak seperti malaikat, lalu tenggelam dalam handuk mandinya. “Apa keputusanmu sudah final, Pen?”, tanya Ibuku lagi berjalan menyusul. Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi sederhana itu. Pamanku sudah dikuasai tekadnya untuk membantu menafkahi keluarga, padahal dia masih kelas 5 SD. Percakapan pagi hari begitu serius, karena mereka sering melihat Bapaknya pulang tanpa membawa uang. Mungkin tidak semua anak-anak berfikiran seperti pamanku, dan mungkin hanya terjadi di sinetron atau FTV bahwa seorang anak kecil sudah berfikir untuk mencari uang. Saat itu tidak terpikir olehnya apakah dia harus berpacu dengan teman-temannya untuk menjadi presiden atau pilot. Akhirnya pamanku berhenti sekolah ikut kakek menjadi buruh bangunan harian, demi kebahagiaan sepuluh orang saudaranya.

(source image: google.com)

Novel – Burning Memory [Tiga]

janin-9-bulanTidak ada alasan untuk menundanya lagi. Ini waktu yang tepat untuk lahir. Umurku sudah cukup, kata bidan. Agar mereka di luar sana segera melihat wujudku yang seutuhnya. Apakah mereka akan semaput melihatku nanti, Aku tak perduli. “Sudah lahir”, Aku mendengar suara seorang pria muda. Seorang wanita yang nantinya kukenal sebagai Ibuku menitikkan airmata. Mungkin dia masih merasa sakitnya tendanganku tadi ke rahimnya, ketika Aku berontak ingin keluar. Aku menangis, karena ternyata semua orang yang ada dihadapanku tak kukenali sama sekali. Aku menangis lebih keras lagi, karena mereka semua menertawaiku dan ini tampak sangat menyeramkan. “Dia lahir ditanggal dan bulan yang sama denganku”, pria tadi berkata lagi dengan riang. Semuanya kembali tertawa. Duabelas hari kemudian pria itu meninggal dunia. Tenang, Aku akan melanjutkan siklus hidupnya. Katanya dia pamanku.

(source image: google.com)

Novel – Burning Memory [Doea]

bidanIbuku dulu pernah bercerita, dan seringkali bercerita, kalau dia ingin sekali menjadi seorang bidan. Sebagai anak pertama dari sepuluh bersaudara, jiwa penyayang telah mengakar disetiap tindakannya, meskipun sembilan orang adiknya adalah adik yang berbeda ayah. Tapi yang harus ia sadari adalah betapa mahalnya sebuah impian dengan latar belakang orang tua yang pekerjaan dan penghasilannya tidak jelas. Ayahnya, dengan kata lain adalah kakek tiriku, seorang tukang bangunan yang orderan-nya tidak pasti. Sedangkan Ibunya seorang Ibu rumahtangga sejati. Sudah jelas ada rintangan besar antara ibu dan impiannya, tidak adanya uang. Ibuku tidak menyerah, ia yakin akan ada jalan mewujudkan impiannya itu. Akhirnya, dari sekian banyak tes kebidanan yang dia jalani, ia berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai ujiannya paling tinggi diantara peserta ujian lainnya. Ia ingin membuktikan bahwa hidup miskin bukanlah rintangan untuk menjadi pintar. Tapi, ia harus mencerna hukum yang berlaku di galaksi ini. Ketika harus membayar baju seragam, sepatu bidan, buku-buku, dan asrama, betul-betul tidak ada uang. Bahkan uang pinjaman pun tak cukup, meskipun pihak akademik telah memberi kemudahan. Ia gagal.

(source image: google.com)

Novel – Burning Memory [Satoe]

makan-malam-4-350x223Keluargaku mempunyai kebiasaan mengobrol di meja makan. Beberapa topic ringan sering diangkat. Termasuk tentang runtuhnya kejayaan keluarga besarku di kota tempat dimana selama ini mereka berkuasa. Sebelumnya, adikku pernah mengirimiku sms, ketika Aku sedang berjuang menyelamatkan masa depanku di kota lain, kalau tahun ini adalah masa-masa sulit bagi keluarga. Aku hampir menitikkan airmata di layar henponku ketika membayangkan apa saja yang telah terjadi. Aku tidak begitu suka dengan acara-acara di televisi, terutama drama dan sinetron yang jalan ceritanya monoton,menceritakan kisah hidup seorang tokoh utama dan  keluarganya, yang kemudian mengalami cobaan-cobaan. Dan itu kini terjadi padaku.

 (source image: google.com)