Novel – Ekuador [Enam]

hidingSelama kita bersembunyi dalam peran yang kita mainkan, kita akan terus terperangkap, akan sering mengeluh dan merasa kesakitan. Tak jarang dari kita akan mencari seseorang sebagai alasan untuk disalahkan. Tak perlu merasa heran jika kita sering terluka, karena belum tentu orang lain penyebabnya. Seringkali kita dihadapkan pada seseorang yang menantang kita untuk melangkah sempurna. Pernahkah kita bercermin seperti apa kita sebenarnya. Pernahkan kita mengukur seperti apa sakit dan ngilunya orang lain yang kita paksa untuk mengangguk. Aku diam dan memejamkan mata. Airmataku meleleh, memikirkan apa saja yang sudah terjadi. Berharap air hujan, air laut, atau air bah sekalipun datang menyembuhkan luka ini. Aku ingin melepaskan topeng yang sudah melekat terlalu lama. Aku ingin bermain dengan duniaku lagi.

(source image: google.com)

Advertisements

Novel – Ekuador [Lima]

obat-penawar-derita1Bagaimanapun juga, orang yang kita sayangi adalah obat penawar terbaik yang kita miliki──setidaknya untuk saat ini. Andaikan kita bisa lebih saling menghargai dan melengkapi sebuah kebersamaan. Sebuah hubungan terasa amazing jika dibangun dengan rasa cinta yang tebal. Fasilitas komunikasi yang ada saat ini cukup lengkap dan canggih agar dapat saling kabar-mengabari. Begitupun juga alat transportasi, untuk sekedar pergi bermain, menjemput, atau saling mengunjungi. Mungkin muncul rasa bosan di kepala masing-masing, tapi itu bukanlah sebuah alasan yang perlu dibesar-besarkan. Pada dasarnya setiap dari kita ingin bertanya dan ditanya. Ingin memperhatikan dan diperhatikan. Ingin mengajak dan diajak. Begitu seterusnya, dan seterusnya. Dan setiap mata dari kita mungkin melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.

(source image: google.com)

Novel – Ekuador [Empat]

fly_by_brvno11Entah kenapa terkadang aku sangat ingin merasakan kebebasan. Sebulan belakangan ini aku seperti terikat oleh sesuatu yang sudah mampir lama melekat. Kadang ingin rasanya menoleh kebelakang, karena aku tidak pernah bermimpi menjadi seperti ini. Yang aku ingat, aku hanyalah ingin menjadi seorang yang selalu berkarya dan menginspirasi banyak orang. Itu saja. Saat aku melakukan sesuatu, tak masalah dia ataupun orang lain mengkritik. Aku tidak memandang indah sebuah kemewahan. Aku hanya inginkan perhatian dan pengertian yang lebih. Dalam sebulan terakhir juga, produksi adrenalinku terus meningkat. Mula-mula aku membutuhkan semacam penawar, yaitu penjelasan dari setiap poin.

(source image: google.com)

Novel – Ekuador [Tiga]

sms-messagesAku menghubunginya disuatu pagi untuk melembutkan hati kami berdua, terutama hatiku sendiri. Aku menemukan beberapa kesenjangan antara sifat dan tindakan, yang artinya semua mungkin akan berbeda nantinya. Padahal mungkin tidak seperti itu yang kami inginkan. Hanya saja, dia dingin seperti biasanya. ‘Sayang. Kamu lagi dimana?’. Aku menghubunginya karena memang membutuhkan sesuatu, bukan takut akan sesuatu. Aku berusaha menggeli-gelikan diriku sendiri agar terlihat senang ketika sms. Kalau hanya aku yang semangat, tentunya ini tidak akan menjadi sebuah simbiosis. ‘Aku masih di rumah. Sedang mengerjakan sesuatu’. Sambil bersiap-siap, aku membalas sms kalau aku akan ke rumahnya.

(source image: google.com)

Novel – Ekuador [Doea]

konsentrasiAku memeras otak untuk mendesain kembali hubungan kami yang memburuk, ketimbang harus berlama-lama terpuruk. Sayangnya, hanya aku yang berusaha berfikir dan memahami siapa sebenarnya yang memimpin disini. Seharusnya jangan pernah mengeluh tentang sebuah kekurangan. Jangan menggenggam kembang api yang siap meletup kapan saja. Aku dibuat menjadi sosok yang aneh. Seolah-olah segala pilihan, otoritas Aku yang memutuskan. Aku sanggup berhenti sejenak dan berfikir tentang sebuah identitas, dan mengingat baris-baris janji kami dahulu. Dan kini, meski sanggup, tapi tak muncul seiris-pun keinginan untuk menjelaskan apa yang tidak kuketahui. Aku ingin sekali mendengarnya memanggilku dengan mata berbinar, “Sayang,… lagi apa?”.

(source image: google.com)

Novel – Ekuador [Satoe]

relationshipSaat ini memang ada yang tidak beres diantara kami. Di sepanjang hubungan yang sudah lama kami runut, apapun jenisnya, hampir setiap saat kami menemukan titik jenuh. Aku melihat pokok-pokok permasalahan dalam kondisi terpotong-potong berantakan. Apakah ini akhir dari semuanya. Sayup Aku mendengar dengungan di telinga kiriku, dan barulah tersadar tentang apa saja yang sudah terjadi selama ini. Setidaknya Aku mem-flashback memori di otak. Bukan yang pertama kali kami berselisih paham dan berdiam selama beberapa hari. Dia yang dulu tempat ku berteduh, menjerit gembira bersama, sekarang membuatku tak berdaya. Bukankah harus ada simbiosis yang harus dibayar demi membangun hubungan lebih baik.

(source image: google.com)