Novel – Grand-Grand [Enam]

nenek

Nenek bukanlah manusia unik yang harus kami elu-elukan. Dia hanya orang baik. Keinginannya sangat sederhana. Dia hanya ingin kami selalu menjaganya. Memadamkan kekhawatirannya. Membuatnya selalu merasa tenang ketika duduk, diam, dan berjalan. Hingga dia dapat merasakan bahwa kami adalah sumur kebahagiaan hidupnya. Sementara kami  terlalu sibuk dan berputar dalam lingkaran hidup kami masing-masing. Dia pernah berpesan begini kepadaku, “Tidak ada gunanya kita bersusah payah siang malam bekerja, jika kita sering melupakan ibadah, sering meninggalkan sholat”. Seperti menggali lubang-lubang di gurun, dimana mata air yang diharapkan hanyalah sebuah mimpi. Bahkan angin yang memenuhi lubangnya sudah tidur terlalu lama. “Kita hidup harus seimbang. Gunakan semua indramu untuk selalu bersyukur kepada-Nya”.

[source image: google.com]

Novel – Grand-Grand [Lima]

a3013c559883269f48136ea9d99f3c73_slideTerkadang kami lupa usia nenek sudah tua. Nenek seharusnya mendapat perhatian dan pemahaman lebih dari kami. Ia ingin seseorang selalu berada disampingnya, anak-anaknya, cucu-cucunya, menemaninya sepanjang hari, meluangkan waktu untuknya. Nenek merindukan saat-saat bersama, saat mengajari kami sesuatu, saat mengobrol bersama, seperti saat kami kecil dulu. Kami terlalu sibuk dengan aktifitas sekolah, belajar, bermain. Orangtua kami pun sibuk dengan urusan mereka di kantor, hampir setiap hari. Kami sering meninggalkannya di rumah sendirian, berfikir seolah-olah ia mampu mengerjakan semua kebutuhan pribadinya sendiri. Kami lupa untuk memakluminya, bahwa dia bukanlah dirinya yang dahulu. Entah dia bingung akan sesuatu, tak satupun dari kami menuntunnya, seperti yang pernah ia lakukan ke kami dahulu.

(source image: google.com)

Novel – Grand-Grand [Empat]

children with grandparentsAda banyak hal yang membuat kami begitu mencintai nenek. Dia tidak pernah meninggalkan kami sedetikpun, terutama dalam setiap doanya. Aku ingat sekali, dulu sewaktu masih kecil, kami pulang kampung setiap musim liburan panjang sekolah, demi bertemu nenek. Saat itu adalah masa-masa terindah yang kukenang. Setiap sore hingga malam hari kami duduk dan makan bersama di tepi danau. Menikmati cemilan dan minuman apapun yang kami suka, atau makanan berat. Bercanda, bergelut bersama, tanpa merasa lelah. Tentu saja tidak hanya aku, adik-adikku, dan kedua orangtuaku yang menikmati indahnya kebersamaan bersama nenek di rumah yang dibangunnya di tepi danau itu, ada juga kakek, paman-paman, bibi-bibi, serta anak-anak mereka, dengan kata lain sepupu-sepupu kami. Boleh dibilang, seluruh keluarga besar kami tinggal bersama nenek. Hanya kami yang merantau dan tinggal di luar kota.

(source image: google.com)

Novel – Grand-Grand [Tiga]

nenek-cucuAku ingin sekali menempel manis ke sisi nenekku sebelum dia berangkat dalam rombongannya siang ini. Memeluknya erat, tapi aku malu. Aku mengganggap diriku sudah dewasa, malu memeluknya erat seperti saat kanak-kanak dulu, meskipun keinginan itu masih ada. Berbeda dengan adikku yang bungsu, bebas memeluk nenek kapan dia suka. “Nenek,… Maafkan saya ya. Saya banyak salah sama nenek. Banyak sekali”, Aku membuka diskusi kecil yang sangat kaku di teras depan rumah setelah dipaksa Ibuku. Tanpa pelukan, hanya duduk berdampingan di kursi masing-masing. Situasi ini terasa sedikit rumit karena cukup lama kami tidak pernah bicara dari hati ke hati berdua, antara cucu dan nenek. “Iya. Nenek sudah memaafkan kalian semua, sebelum kalian memintanya”, jawab nenek dengan lembut dan sangat jujur.

(source image: google.com)

Novel – Grand-Grand [Doea]

indexTidak akan ada kembang api yang ditembakkan ke udara, karena berangkat ibadah haji bukan sebuah perayaan yang perlu dirayakan dengan meriah seperti tahun baru masehi atapun imlek. Meskipun perasaan kami semua saat ini berwarna-warni, tapi aku melihat dengan jelas kekhawatiran yang berusaha disembunyikan dari wajah masing-masing kami disini. Ada banyak cerita yang kami dengar tentang mereka yang ke tanah suci, dari mulai kehidupan di asrama, saat menjalankan ibadah, sampai pulang kembali ke keluarga. Menyenangkan ataupun tidak, kami ikhlas. Ini mimpinya. Sudah lama sekali dia menginginkan. Dan kemudian semua anak-anaknya merasa perlu mewujudkan harapan baik ini, dengan menyisihkan sedikit rejeki yang mereka miliki dan mendaftarkan dalam program haji milik pemerintah.

(source image: google.com)

Novel – Grand-Grand [Satoe]

obat-wajib-apotek1“Udah siap, Fer?”. “Iya. Bentar lagi kok, Ma”, jawabku dari dalam ruang praktek. Aku sedang menyiapkan beberapa obat standar yang mungkin diperlukan grandma di tanah suci nanti. Ya, tahun ini grandma sudah positif menunaikan ibadah haji. Meskipun nanti disana ada dokter dan tenaga medis yang siap mendampingi jamaah calon haji, tapi Aku tetap merasa perlu menyiapkan beberapa obat sebagai bukti besarnya sayang dan perhatianku kepada nenek. “Apalagi yang belum?”, Ibuku masuk keruanganku untuk memastikan. “Label obatnya, Ma. Biar nanti nenek nggak salah makan obat yang mana”, ujarku sambil terus menulis. “Lho, nenek kamu itu ‘kan udah kayak dokter, Fer. Dia udah hapal obat-obat apa yang harus dia makan kalau penyakitnya kambuh”. “Hahaha. Ada-ada saja Mama ini”. “Ya udah, buruan. Nanti taruh disamping travel bag-nya nenek ya, biar bisa disusun”, ujarnya sambil berlalu.

(source image: google.com)