Novel – My Dreams Will Come True [Enam]


Musim hujan bulan ini cukup ekstrim. Beberapa lokasi dilaporkan mengalami musibah banjir. Meninggalkan luka di hati, dan sampah di lingkungan. Sampah plastik, sampah masyarakat, lumpur dan tanah, serta tissue bekas. Hari itu, entah bagaimana, hanya ada dua sapi di peternakan berkelas di kota yang juga korban banjir. Sebenarnya peternakan itu belum layak dapat bintang, meskipun punya fasilitas kolam renang untuk sapi, tapi kamar ganti dan kamar bilasnya sebelas-duabelas dengan tpu, tempat pemandian umum di negara kerbau. Diskusi ringan baru saja diakhiri dari dalam kamar ganti antara dua sapi. Sapi yang buntutnya panjang berjalan keluar meninggalkan sapi buntung yang sibuk mengumpulkan tissue bekas yang berserakan di lantai dengan mulutnya, diantara lumpur dan sampah sisa banjir. Sapi berbuntut berjalan melenggak-lenggok memamerkan pantat hitamnya bak model catwalk, melintasi kolam renang, menuju kandangnya. Ekornya yang panjang disibakkan hingga menggantung di pundaknya, yang membuat iri dan decak kagum si buntung. Tak lama pintu kandang terbuka. Si ekor panjang berjalan keluar, dengan kepala mendongak ke arah langit. Seperti anjing jantan angkuh yang berlagak penguasa wilayah, ia mulai mengambil posisi kencing, ke arah kolam renang. Dia lupa, kalau dia adalah seekor sapi, bukan anjing. Si buntung menjadi geram, ia lalu menarik ekor si angkuh ketika berada di kamar bilas. Si angkuh sontak marah-marah tak jelas. Sapi Tidak Wajib Bunting.

(source image: google.com)

Novel – My Dreams Will Come True [Lima]

imagesSadar ataupun tidak, kita semua memiliki potensi yang tak terbatas, untuk berbuat baik atau merusak. Tapi kita punya pilihan untuk melakukan kedua hal tersebut. Kita bisa menjadi seorang pelajar, atau seorang anak yang tidak menikmati pendidikan formal karena orangtua yang tidak mampu. Kita bisa menjadi seorang mahasiswa yang katanya gaul, atau menjadi seorang penonton para mahasiswa yang sedang demo di jalanan, gedung anggota dewan dan istana presiden. Kita bisa melanjutkan pendidikan S2 atau S3 di dalam dan di luar negeri, atau cukup sebagai karyawan fresh graduate. Ketika tamat di perguruan tinggi jenjang S1, rasanya sudah mati-matian untuk lulus dan mendapatkan IPK 2 koma Alhamdulillah. Bagi sebagian orang, melanjutkan S2 seperti sudah menjadi trend dan ada kebanggaan tersendiri, mempunyai banyak gelar di depan atau belakang nama, meskipun kebanyakan yang terjadi adalah: kapan kuliahnya, kok tiba-tiba besok sudah wisuda, dan nama sudah bertambah buntutnya. Tidak bermaksud menghakimi, tapi aku memang melihat ada yang aneh, meskipun tidak semuanya begitu. Asalkan kita tahu, seberapa berat memikul gelar tersebut. Aku menutup laptopku, merapihkan dan memasukkannya kembali ke dalam tas punggung. Lalu keluar dari kedai kopi di sudut kota Jepang, menyusuri jalanan yang tertutup salju tipis menuju kampus.

(source image: google.com)

Novel – My Dreams Will Come True [Empat]

sms-messages

Ini yang keempat kalinya Aku menggoda dia lewat sms. Tiga sms sebelumnya masing-masing berjarak tiga bulan sejak awal kami putus. Tak terasa sudah hampir satu tahun kami tidak bersama lagi. Awalnya niatku hanya ingin menyapa, karena sejujurnya Aku masih terus memikirkannya, dan tidak memungkiri kalau Aku-pun masih mencintainya. Tapi terkadang ingin rasanya Aku membalas dendam, atau semacamnya, karena persentase otakku lebih banyak memikirkan hal itu, mengingat perlakuannya padaku, dulu. Apa yang tertulis di setiap sms-ku, adalah kata-kata bodoh memalukan, yang menunjukkan seseorang yang lemah, yang haus cinta orang brengsek. ‘Hai, Rafa. Apa kabar’,akhirnya ada kata-kata lain yang bisa dirangkai jempolku di layar ponsel. Dulu mereka tidak sejalan, maksudku antara jempol dengan otakku. ‘Aku sangat menyesal kita berpisah’. ‘Maafkan Aku’. ‘Bisakah kita memulainya kembali, Aku akan memperbaiki semuanya’. Aku tidak pernah mengikutinya, tapi dia selalu terlihat. Baik dijalanan maupun di pikiranku. Tolong Aku. Aku ingin tenang menjalani hidupku. Nyala api lilin dirinya terus bertahan lama dan mengganggu dalam kesadaran internalku, terus dan terus menyala. Aku yang mengawali, menarik dia kedalam setiap langkah-langkahku. Sekarang Aku sendiri tersesat dalam dunia karanganku sekian lama. ‘Maaf. Ini siapa?’, balasnya.

(source image: google.com)

Novel – My Dreams Will Come True [Tiga]

Girl-Boy-Kissing-deviantart-15923245-1023-682Memasuki bulan ke-10 tahun ini, hubungan kami lengkap menjadi 2 tahun 9 bulan. Apa yang dia lakukan barusan berhasil memporak-porandakan semua komitmen yang kami rakit. Menghantam tepat di jantungku. Entah apalagi salahku kali ini, setelah keributan-keributan kecil yang selalu menghiasi hari-hari kami. Aku pantas merenung tentang kenyataan pahit apa yang kuhadapi. Hubungan yang kami jalin selama ini, merangkak melamban seperti kura-kura, membatin seperti hembusan nafas. Ingin rasanya Aku mengamuk ketika melihatnya mencium laki-laki itu. Isu pemanasan global yang selama ini kudengar di kantor dan rumah berhasil membuatku kering hari ini. Perasaan cinta yang kupupuk sekian lama membuatku ketergantungan padanya. Sampai pada akhirnya Aku tidak bertindak apa-apa untuk merespon. Ada tidaknya hubungan dia dengan laki-laki itu, bukanlah hal penting lagi. Lupakan poster Aku sayang kamu. Tentu saja dia bebas memilih, tapi tidak ketika masih bersamaku. Banyak hal kecil menyegarkan yang bisa Aku lakukan. “Kamu sudah banyak perkembangan sekarang, sayang”, ucapku menengahi ritual. Dia terkejut setelah meminum cukup banyak air liur laki-laki itu. Mereka melakukan dengan indah dan tampak berpengalaman. Andai saja itu ia lakukan bersamaku.

(source image: google.com)

Novel – My Dreams Will Come True [Doea]

bandung-factory-outlet-shopping-ladies-kids-menAku masih berusaha keras menemukan Pangestu, kekasihku. Mungkin masih kekasihku. Tidak jelasnya akhir status hubungan kami memaksaku untuk terus menemukan betapa konyolnya dia. Roda kendaraanku bergerak keluar dari kompleks kampus terbesar di Bandung, menuju kawasan bisnis. Aku bercermin di spion memperbaiki penampilan sebelum masuk ke dalam salah satu factory outlet (FO). Sekedar cuci mata, tidak untuk membedah fesyen terbaru di Kota Kembang ini. Sesuatu telah memaksaku memilih berhenti di tempat ini. Bukan karena ada kenangan manis disini, tapi banyak tempat-tempat di Bandung ini mampu membius pendatang untuk mampir, termasuk FO ini. “Sarah?”, seseorang dengan intonasi suaranya yang sangat kukenal memanggilku dari balik jajaran baju yang tergantung di rak. Pangestu, orang yang kucari dari dulu. Aku hanya sesekali mampir ke beberapa FO bersama Pangestu, dulu sewaktu masih bersama. “Ngapain kamu disini?”, dia berusaha menutupi rasa kagetnya dengan caranya sendiri. Detik demi detik dulu lebih banyak kami habiskan di rumah dan kafe minimalis yang menjamur. “Eng,.. Nggak ada. Kebetulan aja lewat, trus mampir”, jawabku berusaha meyakinkan alam semesta. Tidak ada perbedaan besar pada diri Pangestu yang sekarang dan dulu. “Kamu dari kampus ya?”, dia bertanya lagi, nyaris tidak ada kesempatan bagiku untuk terdiam. Aku ingin menyelamatkan diriku dari stress yang ia wariskan, yang dulu sempat tergila-gila padanya. “Kok tau?”, tanyaku. Tidak perlulah rasanya Aku menghakimi diriku dengan semacam teror: ‘Apa salahku?’. Toh semuanya berjalan normal. “Kamu kan bawa tas. Pegang buku juga”, ujarnya kemudian. Dia tampak segar, sementara Aku merasa menua. Sudah cukup rasanya dia menginvasi duniaku. Dia yang selalu mendominasi. Aku tidak ingat kapan persisnya semua ini dimulai, setelah semua kehangatan itu, tiba-tiba dia menghilang. “Oh. Iyaya”, Aku bereaksi datar. Yang jelas, rasanya mubazir jika Aku terus menerus memikirkan, kenapa dia pergi begitu saja. “Eh. Kita ngupi-ngupi yuk”, lagi-lagi program cuci otak mulai dia tawarkan. Terlalu menarik untuk dilewatkan. Aku akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya nanti. Kami menuju kedai kopi di sebelah FO. Belum sempat mengobrol, tiba-tiba iklan lewat. “Sebentar ya. Aku terima telpon dulu”, dia bergerak keluar, diantara kerumunan orang-orang, berusaha menyembunyikan sesuatu. Siluet tubuhnya tampak menjauh, dan terus menjauh. Aku tahu, dia akan menghilang lagi. Selamanya. Sungguh manusia tak berwajah.

(source image: google.com)

Novel – My Dreams Will Come True [Satoe]

cara-mendapatkan-kualita-tidurHari sudah semakin larut malam. Kami akan beranjak tidur menutup hari, setelah obrolan panjang yang tentunya menyenangkan bagi kami. Tiba-tiba Abangku mengangkut kasur lipat, bantal, juga selimut tipis yang biasa kami gunakan untuk tidur. Kita tidur di ruangan sebelah saja, katanya. Di sini panas, kita tidak punya kipas angin, apalagi AC. Aku menuju ruangan yang disebutkannya tadi, merapikan kasur yang akan kami gunakan nanti. Sementara Abangku kembali ke ruangan tadi, mengambil sesuatu entah apa, suaranya masih sayup terdengar. Aku selesai merapikan alas kasur dan membalikkan badan, ruangan itu sudah berubah. Ruangan menjadi lebih gelap dengan cahaya remang sekedarnya. Aku kembali menoleh ke kasur, yang sekarang sudah sejajar terbaring bersama dengan sebuah makam tua terbuat dari batu dan berpagar rendah. Keningku hanya mengkerut seraya memanggil Abangku dengan sedikit berteriak, kenapa kita tidur di tempat seperti ini. Tidak apa-apa, di situ sejuk, kata Abangku. Ah, Aku nggak mau, ujarku seraya mengangkut kembali kasur dan bantal. Tiba-tiba seorang anak kecil yang berpenampilan wajar, celana pendek dan kaos oblong hijau menarik pelan kasur dan bantal yang kugendong. Jangan pergi, tidur di sini saja, katanya. Aku agak terkejut, darimana anak ini muncul. Aku langsung menarik kasur dan bantal dari genggaman anak kecil tersebut, dan sedikit memaksa agar anak itu melepaskan genggamannya. Anak kecil itu masih berusaha menangkap kasur yang kupegang, dan menahanku. Aku mulai emosi, dan menarik paksa kasur dan bantal dari genggamannya. Saat emosiku tertahan, dan Aku berdiri pada posisi stabil, yang kulihat di depanku bukan anak kecil yang berpenampilan wajar tadi. Anak itu sekarang tampak tidak wajar. Mukanya sekarang putih pucat, lingkaran hitam lebar seperti panda ada di kedua matanya, rambutnya hitam kusam mengembang bergaya cowok korea, dan yang paling penting pakaiannya putih semua. Aku gagap memanggil Abangku.

(source image: google.com)