Novel – Pacar Empat Hari [Enam]

how-approach-womanSialan. Ternyata dia mau ‘kopi darat’ a.k.a ketemuan dengan orang yang baru saja dikenalnya lewat chating tadi. “Dia nungguin di pintu depan, Un”, Kinoy menarik lenganku, “Klo gue udah nyampe, gue disuruh miscall”. “Dasar lu. Yawdah lu kesana aja. Gue mau ke supermarket dulu”, aku berhenti sejenak membuat gerakan berpencar. “Un, tunggu dulu,…”, Kinoy tergopoh-gopoh berusaha menggapai lenganku. “Apalagi, Noy?”. “Tunggu dulu, Un”, dia mulai memelas. “Apalagi? Udah, lu pergi ketemuan aja. Ntar gue kesini lagi klo lu udah selesai”. “Lu disini aja, temenin gue”. “Aaah,… Nggak mahu ah. Lu aja sendiri. Males gue”. “Uuun,… Please,…!!!”. Aku terdiam menatap wajah babi-face-nya yang imut, dengan hidung yang lumayan besar. “Temenin gue sebentaaarrr aja. Ya, Un?”. Kurang dari semenit kami tiba di pintu utama lantai satu. “Mana dia, Ki?”, bisikku sambil melihat orang yang berdiri disekitar pintu. “Gue disuruh miscall kalo dah nyampe sini, Un”. “Yawdah, buruan, di miscall”. “Hehehe. Pulsa gue habis, Un”. Aku terdiam. “Lu yang miscall ya. Ini nomor-nya”. Setelah sekali nada sambung, langsung kumatikan henpon-ku, “Cukup?”, tanyaku. Tiba-tiba henpon-ku bergetar, “Dia nelpon, Ki”. “Angkat, Un, angkat!”, Kinoy memberi semangat. “Halo?”, orang itu menyapa duluan. “I-iya,… Halo,…”, ragu-ragu ku jawab. “Aku sedang liat kamu lho. Lagi berdua kan?”. Aku mengangguk sambil mataku mencari orang yang sedang menelpon. “Ngapain lu ngangguk, Un? Bilang ‘iya’ gitu”. “Eh, iya, iya”, buru-buru ku jawab lagi. “Kalian yang pake daster bunga-bunga ‘kan, warna pink. Yang satunya pake selendang ijo. Tunggu ya. Aku kesana sekarang”. Percakapan terputus sepihak. “Heee? Ini orang gila kali ya?”, ujarku sambil melihat ke sekeliling. “Kenapa, Un? Dia bilang apa?”. “Masa dia bilang kita yang pake daster bunga-bunga warna pink. Trus lu yang pake selendang ijo. Stress ini anak. Yang itu,…”, aku menunjuk dua orang perempuan tua yang persis digambarkan tadi. Kinoy langsung tertawa terpingkal-pingkal. “Sialan,…”, ucapanku terputus saat melihat seorang laki-laki dengan sedikit berlari menuju kearah kami, “Itu dia, Ki”, bisikku hampir tidak terdengar.

(source image: google.com)

Advertisements

Novel – Pacar Empat Hari [Lima]

parkir-basementMobil kuparkir di basement dekat pintu keluar. Ini malam Selasa, tapi Mall yang kami datangi tetap saja ramai pengunjung. Crocodilaz-Net, café internet paling cozy yang pernah kutemui ada di Mall ini. Letaknya di lantai paling atas. “Harusnya lu parkir mobil tadi di parkiran atas aja, Un. Capek nih kaki gue”, keluh Kinoy sambil sesekali mengusap pahanya. “Iya, iya, sori. Gue nggak nyangka lift-nya lagi diperbaikin, Ki. Tapi ini bagus buat program ngecilin paha lu, Ki”. “Diem!”, ujar Kinoy sambil menjitak kepalaku. Aku menggunakan PC yang bersebelahan dengan Kinoy. Lima belas menit kemudian Kinoy mengajakku pulang.

(source image: google.com)

Novel – Pacar Empat Hari [Empat]

warnet-vs-office“Gimana, Un?”, seru Kinoy. “Apanya yang gimana?”. “Jadi mau ikut gue nggak? Gue mau ke warnet, sekarang”. Mungkin tidak ada salahnya Aku ikut Kinoy ke warnet, pikirku. Aku langsung beranjak meninggalkan ruang tv menuju kamar. Aku mengambil celana jeans warna abu-abu pucat, t-shirt abu-abu gelap polos, dan blazer biru dari lemari. “Pada mau kemana sih malem-malem gini?”, celetuk Mona yang sejak tadi tiduran di ruang tv mengenakan tank-top putih dan celana jeans super-pendek, dengan masker berantakan di muka yang gelap dan mulai mengering,  melengkapi penampilannya mirip Miss.Vampir. Tiara muncul dari kamarnya, “Iya, mau kemana sih, Un?”. “Kinoy ngajakin gue ke warnet, Ra”. “Uuuh,… Teteup ya, Ki, nyari mangsa”.

(source image: google.com)

Novel – Pacar Empat Hari [Tiga]

rumah-disewakan-di-bintaroTiara dan Cut Mona menawarkan kepadaku untuk tinggal serumah dengan mereka. Mereka berdua seniorku dikampus. Kami mengontrak rumah di daerah Depok. Kinoy, temannya Tiara, mahluk pemalu asal Garut yang sedang mencari pekerjaan dengan gelar Sarjana Pertanian-nya itu juga ikut numpang tinggal dikontrakan kami. Aku sih tidak masalah. Lagipula, sepertinya dia cukup baik. Bagiku, teman Tiara temanku juga. Tiga bulan berlalu, dan hidup kami biasa saja.

(source image: google.com)

Novel – Pacar Empat Hari [Doea]

180231_jakarta1Malam hari Kota Jakarta tampak begitu indah. Ibukota yang super-padat itu ternyata punya wajah cantik juga di waktu lain. Dari dalam pesawat, lampu-lampu gedung dan kendaraan yang bergerak tampak berkilauan seperti butiran bintang-bintang yang bertebaran di daratan, yang sama hitamnya dengan angkasa. Tak lama pesawat yang Aku tumpangi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Aku meninggalkan Medan dua jam yang lalu demi ambisiku menjadi seorang dokter di Universitas idamanku di Jakarta.

(source image: google.com)

Novel – Pacar Empat Hari [Satoe]

15036Aku masih patah hati. Pacarku yang kemarin akhirnya minta putus. Dia bilang, orangtuanya ingin dia segera menikah, mengingat umurnya yang sudah kepala tiga. Tapi heran, dia tidak menawarkan hal itu ke Aku sekalipun. Sakit memang. Dia malah bilang, kalau dia sudah punya calon yang akan dinikahinya, dan ini bukan pilihan orangtuanya, melainkan pilihan dia sendiri. Dan dia berencana akan mengenalkannya ke Aku dalam waktu dekat. Dasar orang gila. Dia pikir Aku ini apa. Tidak masuk dalam nominasi Orang Terpilih. Hubungan kami memang baru berjalan satu bulan, yang sangat cukup untuk merangkum semua cinta, kasih sayang, dan,… selingkuh pada gigitan terakhir. Aku sangat,… sangat menyayangi dia. Dia-pun begitu,… Aku rasa.

(source image: google.com)