Novel – Pet Lover [Lima]

rapor-sekolah-ilustrasi-_110617195628-893Universitas juga bagian dari industri di bidang pendidikan. Mereka tidak ingin salah dalam menerima mahasiswanya, terlebih lagi melalui jalur khusus, dimana calon mahasiswa diseleksi melalui hasil nilai rapor mereka selama di SMU. Salah memilih, reputasi kampus dipertaruhkan. Dan ketika aku duduk sendirian, tanpa didampingi ayahku, di sebuah gedung tempat pendaftaran ulang, aku melihat wajah-wajah cerdas calon mahasiswa yang berasal dari ujung barat sampai ujung timur negeri ini. Meskipun aku tidak menemukan mahasiswa asal pulau Papua yang datang menggunakan koteka, pakaian adat kebanggaannya itu. Ketenanganku terusik, ketika seorang pria tidak kukenal yang duduk disebelahku menyodorkan tangannya. “Kenalan, Mas. Saya Dodi. Mas darimana?”, dia bertanya dengan senyum merekah dan matanya yang hampir hilang.

(source image: google.com)

Novel – Pet Lover [Empat]

bisnis-untuk-mahasiswaPihak universitas telah menentukan tanggal dan bulan untuk kami mendaftar ulang sendirian, para calon mahasiswa baru, yang lulus seleksi dari sekolahnya masing-masing, dari seluruh Indonesia, melalui jalur khusus. Padahal, pada saat yang bersamaan juga sedang berlangsung ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Mungkin saja hal ini dilakukan agar calon mahasiswa yang sudah lulus seleksi melalui jalur khusus, tidak lagi ikut UMPTN, dan lulus di universitas lain. Kabarnya kami nantinya bakal menjadi individu-individu yang intelek, manusia yang cepat tahu ilmu-ilmu baru, dan diberi status ‘mahasiswa’. Khusus untuk jurusanku sendiri, kabarnya lulusannya sangat ahli di banyak bidang keilmuan, kecuali di bidangnya sendiri. Terdengar sangat menghibur.

(source image: google.com)

Novel – Pet Lover [Tiga]

pengantin_pelaminan_tanduk_minangkabauAwalnya Aku enggan mampir ke rumah sepupu Ibuku di Bekasi, dan ingin langsung ke Bogor. Takut merepotkan, kupikir. Apalagi yang berangkat tidak hanya kami berdua, Aku dan Ayahku. Teman Ayahku dan anaknya juga akan melanjutkan kuliah di Bogor, bersamaku. Hanya beda jurusan. Tetapi Ibuku memaksa mampir dan memberitahu mereka tentang berita bagus ini. Jangan sampai sepupu Ibuku kecewa, katanya. Aku tahu betul sifat jelek sepupu Ibuku itu dan masih bercokol kuat di memori, karena dulu Aku sudah melakukan survei kecil saat liburan sekolah. Siapapun akan merasa sulit beradaptasi dengannya, begitu juga Aku. Sebut saja orang padang, pandai berdagang. Kebetulan atau tidak, banyak yang merantau dan berkembang-biak di negeri orang. Rasa-rasanya hampir semuanya mengaku sukses ketika pulang kampung dengan judul ‘Pulang Basamo’. Kenyataannya sepupu Ibuku memang berdiri angkuh beberapa level diatas keluarga kami. Pertanyaan yang dia keluarkan membuatku kesal. Terlebih lagi Ibunya, dengan kata lain kakak dari nenekku. “Kenapa tidak kuliah di UI atau ITB?”. “Kok ambil jurusan itu?”. Aku hanya menggeram.

(sourceimage: google.com)

Novel – Pet Lover [Doea]

blog - sayurasem_sundaMasalah pertama yang Aku hadapi adalah persoalan konsumsi. Bukan apa-apa, ini berhubungan dengan lidah. Siapa yang tidak butuh makan, untuk tetap hidup, katanya. Ini mengingatkanku tentang wisata kuliner yang digembar-gemborkan oleh si ahli cicip. Molekul-molekul bumbu dengan komposisi sempurna sangat penting bagi harmonisasi papil-papil lidah. Apalagi ayahku, tidak ingin citarasanya terhadap masakan rusak gara-gara masakan hambar. “Apa ini? Air cuci tangan ya? Kok pake sayur-sayuran?”, ujarnya saat kami di warung nasi dekat kost-kostan. Aku mendekat, “Ini sayur asem, Ayah”, bisikku sambil meringis. Ayahku pura-pura tidak mendengar, dia terlihat fokus pada siaran tv yang memutar adegan chef sedang memasak dengan cantik. Sayur asem yang disajikan di warung ini memang dibuat seadanya, persis air cuci tangan, baik dari rasa maupun penampilan. Ayahku pengurus di asosiasi warga minangkabau, dan dia tidak mau dipermainkan soal rasa masakan, begitu juga Aku.

(source image: google.com)

Novel – Pet Lover [Satoe]

highschool20041Tahun ini pihak sekolah sudah menganggap Aku siap untuk kuliah, melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Aku dan teman-teman se-angkatanku pun juga merasa sudah siap untuk meninggalkan rumah, bahkan meninggalkan negaraku sekalipun. Aku merasa sudah cukup bahagia hidup tujuh belas tahun bersama orang tua, beserta aturan-aturan mereka yang menghipnotisku setiap hari. Aku akan segera meninggalkan mereka, meninggalkan kebersamaan yang selama ini sebenarnya sangat menghangatkanku. Aku membayangkan bagaimana rasanya jauh dari Ibu. Ibuku ingin mempersiapkan segala kebutuhanku dengan sempurna. Selimut, handuk, kompor, sikat gigi, kipas angin. Sepertinya Aku akan melanjutkan kuliah di Black-Hole University, yang tidak ada toko ataupun supermarket di sana. Dia begitu takut kehilanganku. Padahal tiga orang anaknya yang lain, adik-adikku, tak kalah lucu dari ku. Semuanya berbakat di bidang trouble-maker, seperti Aku tentunya. Sementara ayahku terlalu sibuk menyiapkan kebutuhannya sendiri untuk tinggal beberapa saat di tempatku nanti. Setengah lebih volume travel-bag-ku berisi barang-barangnya. Ayahku ingin memastikan Aku akan baik-baik saja di sana. Tentunya dengan pembuktian secara live setidaknya selama 1 minggu disana. Dia traveler semasa mudanya.

 (source image: google.com)