Novel – Skandal Djepit [Lima]

red-carpet“Eh, “Yaampun. Lu teteup aja centil ya”, ujar Abhe menyambut Delon yang berjalan seperti di atas red-carpet. “Ngapain lu di semak-semak belukar?”, sambung Tedi. Delon menatapku lama, lalu berpindah ke Abhe, “Itu siapa, Bhe?”, Delon tidak merespon pertanyaan Tedi. “Si Vitro”, jawab Abhe singkat. “Woi, lu ngapain di semak itu tadi? Ngumpet dari razia Satpol PP ya”, goda Tedi. “Sialan lu. Lu kate gue waria”, giliran Tedi ngakak. “Buat gue aja dia, Bhe”, Delon menatapku lagi. Aku memasang muka flat, lalu melihat ke arah Abhe yang pura-pura menerima telpon dari ponselnya. Apa yang mereka cari disini. Mereka berharap bertemu siapa. Aku memang lebih banyak menghabiskan malam di rumah, di kamarku. “Tro, Delon ngajakin kenalan tuh”, lagak Ilham yang menjelma sebagai peri baik hati yang suka menolong dan rajin menabung.

(source image: google.com)

Novel – Skandal Djepit [Empat]

14-Februari-2011-Angkot-jadi-omprengan-malam“Eh, kok turun disini, Bhe?”, ujar Ilham sambil membayar ongkos mikrolet, “Kan lebih deket kalo kita turun disana”, dia menunjuk salah satu apartemen pencakar langit yang lampunya gemerlap mejikuhibiniu. “Deket fore-play situ kan suka macet, Ham. Mangkanya kita turun disini. Apalagi Ini malam minggu, pasti macet banget”, ujar Tedi. Kami semua terdiam, begitu juga Tedi. “Emmm,… Maksud gue fly-over”, Tedi mengoreksi. Kami semua tertawa terbahak-bahak. “Gue suka heran deh sama lu, Ted”, sela Abhe disela tawanya. “Udah, buruan jalan”, Tedi mendorong Abhe untuk menyeberang. Detik berikutnya, “Abheeeeeeee!!!!”, dengan senyum mempesona dan lesung pipi yang samar-samar, sosok yang akhirnya Aku tau bernama Delon muncul dari tanaman penghias deretan pagar beton hotel berbintang di depan kami.

(source image: google.com)

Novel – Skandal Djepit [Tiga]

copy_of_GospelChoir2004Kesenanganku dalam bernyanyi telah membawaku ikut bergabung dalam paduan suara kampus, yang mempertemukan Aku dengan Abhe. Kami satu kampus, hanya saja Abhe seniorku di Fakultas Hukum. “Haaa,… Gue kira kita pake mobil elu, Bhe!”, bisikku ketika mikrolet yang kami tumpangi bergerak perlahan. “Bensin mahal, Tro!”, celetuk Tedi. Kami semua tertawa. “Hahaha,… Selain itu, kalo bawa mobil ntar kita nggak bisa seru-seruan, Tro”, Abhe berusaha menetralisir. “Alesan!”, celetuk Tedi lagi. Abhe langsung mencubit perut Tedi yang agak buncit itu. “Aduuuhhh!!! Abhe, AH!”. Aku, Ilham, dan penumpang mikrolet lainnya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. “Heh. Heh. Jangan bersisik, ah. Malam jumat kliwon nih”, ujarku. “Malam mingguuu!!!”, seru Abhe dan Tedi bersamaan. “Iya. Iya. Maksud gue juga itu tadi. Heh, Ilham, jangan diem aja lu. Mabok ya? Udah,… dikeluarin aja. Minta kantong kresek, Bhe”, ujarku menggoda. “Sialan lu!”, Ilham langsung membenarkan posisi duduknya.

(source image: google.com)

Novel – Skandal Djepit [Doea]

sandal-jepitAku menatap Tedi yang berlalu menuju ruang tamu. Dia selalu membuatku tersenyum. Dari seluruh kulit ditubuhnya, yang berwarna putih hanyalah muka, tidak disertai leher. Benar-benar hanya muka. Entah itu akibat ia selalu menggunakan krim pemutih wajah KW 2, atau bedak kiloan yang terlalu tebal. Terlebih lagi ia selalu berpakaian serba gotik, sehingga keputihan itu tampak mencolok. “Yaampun, neeek. Lu mau ngeracunin si Vitro apa, ngajakin dia ikut?”, Tedi mendorong Abhe ke sofa empuk di ruang tv. “Sialan lu! Lu pikir gue nenek sihir, apa?”. Samar-samar Aku mendengar percakapan mereka dari dalam kamar. Sudah hampir delapan bulan Aku bersama mereka. Abhe dan Tedi. Suasana rumah kontrakan kami ini selalu hangat dan ramai, karena ada banyak hal yang bisa jadi bahan candaan. Selain itu, rumah ini sering menjadi tempat persinggahan teman-teman kuliah kami. Ya, kami mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta terkenal di Jakarta. Dari sekian banyak teman Abhe dan Tedi yang kukenal, Ilham yang paling sering datang, bahkan menginap sampai beberapa hari. “Tro,… Buruan!!!”, Abhe berteriak lagi dari ruang tv. “Iya, bentar!”, balasku sambil menuju dapur, mencari sandal jepit.

(source image: google.com)

Novel – Skandal Djepit [Satoe]

Saturday_night_live_logo

“Tro, mau ikut nggak?”, Abhe melambaikan tangannya kepadaku. Seolah-olah kami sedang berada disuatu padang rumput yang luas, saling berjauhan satu sama lain, sehingga memaksa Abhe melambaikan tangannya yang bulat-gemuk itu. Padahal jarak kami hanya tiga jengkal kuda. Kebiasaan menggerakkan anggota tubuh saat berbicara sudah tidak dapat dipisahkan dari seorang Abhe. “Eh, Vitro mau diajak nggak, Bhe?”, sela Ilham yang tiba-tiba muncul dari kamar Abhe, lalu melempar senyum termanisnya padaku. “Apa sebaiknya nggak usah, Bhe?”, Ilham melanjutkan dengan agak berbisik.  “Ih,.. Nggak apa-apa lagi, Ham. Lu takut amat sih. Biarin aja Vitro ikut, daripada dia bengong di rumah”, Abhe malah menjawab dengan suara lantang, “Ayo, Tro, siap-siap. Ikut ‘kan?”. Sepertinya Aku tahu mereka mau kemana. Ini malam minggu. “Woi,… Buruan! Jadi pergi nggak sih?”, Tedi keluar dari kamarnya yang selalu remang-remang-gelap.
(source image: google.com)