Novel – Skandal Djepit [Lima]

“Eh, “Yaampun. Lu teteup aja centil ya”, ujar Abhe menyambut Delon yang berjalan seperti di atas red-carpet. “Ngapain lu di semak-semak belukar?”, sambung Tedi. Delon menatapku lama, lalu berpindah ke Abhe, “Itu siapa, Bhe?”, Delon tidak merespon pertanyaan Tedi. “Si Vitro”, jawab Abhe singkat. “Woi, lu ngapain di semak itu tadi? Ngumpet dari razia Satpol…

Novel – Skandal Djepit [Empat]

“Eh, kok turun disini, Bhe?”, ujar Ilham sambil membayar ongkos mikrolet, “Kan lebih deket kalo kita turun disana”, dia menunjuk salah satu apartemen pencakar langit yang lampunya gemerlap mejikuhibiniu. “Deket fore-play situ kan suka macet, Ham. Mangkanya kita turun disini. Apalagi Ini malam minggu, pasti macet banget”, ujar Tedi. Kami semua terdiam, begitu juga Tedi….

Novel – Skandal Djepit [Tiga]

Kesenanganku dalam bernyanyi telah membawaku ikut bergabung dalam paduan suara kampus, yang mempertemukan Aku dengan Abhe. Kami satu kampus, hanya saja Abhe seniorku di Fakultas Hukum. “Haaa,… Gue kira kita pake mobil elu, Bhe!”, bisikku ketika mikrolet yang kami tumpangi bergerak perlahan. “Bensin mahal, Tro!”, celetuk Tedi. Kami semua tertawa. “Hahaha,… Selain itu, kalo bawa…

Novel – Skandal Djepit [Doea]

Aku menatap Tedi yang berlalu menuju ruang tamu. Dia selalu membuatku tersenyum. Dari seluruh kulit ditubuhnya, yang berwarna putih hanyalah muka, tidak disertai leher. Benar-benar hanya muka. Entah itu akibat ia selalu menggunakan krim pemutih wajah KW 2, atau bedak kiloan yang terlalu tebal. Terlebih lagi ia selalu berpakaian serba gotik, sehingga keputihan itu tampak…

Novel – Skandal Djepit [Satoe]

“Tro, mau ikut nggak?”, Abhe melambaikan tangannya kepadaku. Seolah-olah kami sedang berada disuatu padang rumput yang luas, saling berjauhan satu sama lain, sehingga memaksa Abhe melambaikan tangannya yang bulat-gemuk itu. Padahal jarak kami hanya tiga jengkal kuda. Kebiasaan menggerakkan anggota tubuh saat berbicara sudah tidak dapat dipisahkan dari seorang Abhe. “Eh, Vitro mau diajak nggak,…