Novel – My Dreams Will Come True [Enam]


Musim hujan bulan ini cukup ekstrim. Beberapa lokasi dilaporkan mengalami musibah banjir. Meninggalkan luka di hati, dan sampah di lingkungan. Sampah plastik, sampah masyarakat, lumpur dan tanah, serta tissue bekas. Hari itu, entah bagaimana, hanya ada dua sapi di peternakan berkelas di kota yang juga korban banjir. Sebenarnya peternakan itu belum layak dapat bintang, meskipun punya fasilitas kolam renang untuk sapi, tapi kamar ganti dan kamar bilasnya sebelas-duabelas dengan tpu, tempat pemandian umum di negara kerbau. Diskusi ringan baru saja diakhiri dari dalam kamar ganti antara dua sapi. Sapi yang buntutnya panjang berjalan keluar meninggalkan sapi buntung yang sibuk mengumpulkan tissue bekas yang berserakan di lantai dengan mulutnya, diantara lumpur dan sampah sisa banjir. Sapi berbuntut berjalan melenggak-lenggok memamerkan pantat hitamnya bak model catwalk, melintasi kolam renang, menuju kandangnya. Ekornya yang panjang disibakkan hingga menggantung di pundaknya, yang membuat iri dan decak kagum si buntung. Tak lama pintu kandang terbuka. Si ekor panjang berjalan keluar, dengan kepala mendongak ke arah langit. Seperti anjing jantan angkuh yang berlagak penguasa wilayah, ia mulai mengambil posisi kencing, ke arah kolam renang. Dia lupa, kalau dia adalah seekor sapi, bukan anjing. Si buntung menjadi geram, ia lalu menarik ekor si angkuh ketika berada di kamar bilas. Si angkuh sontak marah-marah tak jelas. Sapi Tidak Wajib Bunting.

(source image: google.com)

Advertisements

Novel – Grand-Grand [Enam]

nenek

Nenek bukanlah manusia unik yang harus kami elu-elukan. Dia hanya orang baik. Keinginannya sangat sederhana. Dia hanya ingin kami selalu menjaganya. Memadamkan kekhawatirannya. Membuatnya selalu merasa tenang ketika duduk, diam, dan berjalan. Hingga dia dapat merasakan bahwa kami adalah sumur kebahagiaan hidupnya. Sementara kami  terlalu sibuk dan berputar dalam lingkaran hidup kami masing-masing. Dia pernah berpesan begini kepadaku, “Tidak ada gunanya kita bersusah payah siang malam bekerja, jika kita sering melupakan ibadah, sering meninggalkan sholat”. Seperti menggali lubang-lubang di gurun, dimana mata air yang diharapkan hanyalah sebuah mimpi. Bahkan angin yang memenuhi lubangnya sudah tidur terlalu lama. “Kita hidup harus seimbang. Gunakan semua indramu untuk selalu bersyukur kepada-Nya”.

[source image: google.com]

Novel – Galaksi [Sebelas]

cahaya-bulan-purnama-bikin-susah-tidur

Aku terkejut, ternyata pasir bintang juga bisa mempunyai rahasia-rahasia. Bersama cahaya bulan, mereka menjaganya dengan sangat baik. Dia memberitahukanku untuk berhenti mengejar galaksi, mengejar mimpiku. Karena aku seperti orang yang tidak waras kalau memikirkannya, meskipun itu sungguh menyenangkan hati, membuat merasa sangat bahagia saat memandangnya, lalu berubah sedih. Tetapi inilah rahasiaku, yang kusimpan di dasar kalbu. “Aku cukup puas”, bantahku kepada padang pasir, ketika perasaan ketidakadilan ini mulai muncul di kepalaku, menari-nari dengan tarian yang berbahaya. Aku melihat dia tertidur di hadapanku, sambil memangku salah satu planetnya yang manja. Dia memiliki banyak hal yang lebih berharga, daripada sekedar merasakan hatiku yang rapuh karenanya. Hatinya sudah dipenuhi dengan kesetiaan pada cahaya matahari.

[source image: google.com]

Novel – Galaksi [Sepoeloeh]

mendung

Aku sadar betul, saat ini kami hanya berteman. Tidak kurang, juga tidak mungkin lebih. Meski begitu, perhatianku padanya sangat menyeluruh. Bulu matanya yang lentik, yang mencakar-cakar udara malam ketika berkedip, membuatku salah tingkah. Memikirkan senyumnya setiap sebelum tidur dan bangun tidur, seperti merasakan mendung tanpa harus menatap langit, membuat galau, tapi sangat dirindukan oleh padang pasir. Kalau boleh, setiap minggu aku ingin mengunjunginya di langit sana. Rasanya seperti berabad-abad kalau beberapa hari saja tidak bertemu dengannya, karena setiap hari kami sibuk masing-masing. Aku sibuk menjahit awan yang dikoyak petir, sedangkan dia sibuk mengatur planet-planetnya agar tidak merengek-rengek. Sebentar saja dia sudah tiba di pasar traditional, membeli tepung bintang.

(source image: google.com)