Novel – Mata Emas [Empat]

[salah monyet] Bagaimana yah menggambarkan sosok seorang monyet. Sifat buruknya yang kulihat, suka mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mereka seperti selalu kehausan. Kebanyakan dari mereka hidup di kebun-kebun yang belum tentu milik mereka, dan hutan-hutan yang sudah pasti milik kerajaan. Berani sekali kamu berbicara begitu, kata mereka marah. Kamu berani bilang begitu karena kamu belum bermetamorfosis menjadi monyet gendut. Kenyataannya, sekarang memang banyak monyet yang gendut karena terlalu banyak makan, makan temannya sendiri. Aku melihatnya sendiri kemarin, sampai hari ini juga. Matanya setengah tertutup dan mulutnya menganga karena kekenyangan. Aku memandang monyet-monyet itu dengan muak. Kalian pura-pura tidak percaya kalau monyet-monyet itu menguasai kerajaan besar sampai terkecil. Monyet yang kusebutkan ini tidak selalu makan buah, sayuran, ataupun kacang. Mereka menerima dan memakan apa saja, selain makan rumput, bunga, dan daun kering. Kalau ditanya ini salah siapa, apa kita kembalikan kepada dosanya setan monyet? Didikannya memang salah. Manusia saja tahu kalau itu tidak baik. Memang, memalukan sekali hidup di Kerajaan Monyet, dan menjadi bagian dalam Lingkaran Setan Monyet. Yang kukatakan ini benar-benar menyedihkan.

(source image: google.com)

Advertisements

Novel – Mata Emas [Empat]

IMG_0647

[penyihir gendut] Banyak hal dilakukan para penyihir disini yang menusuk-nusuk hati rakyat jelata. Mereka seringkali tertawa dengan renyahnya padahal suara merintih terdengar dimana-mana. Mereka juga tidak pernah capek untuk selalu melukis kebohongan demi kebohongan untuk di dengar oleh orang-orang. Tidak pernah capek melakukan kejahatan yang begitu rapi. Padahal para rakyat sudah merasa sangat muak dengan semua ini. Mereka semakin gendut dan gembrot, sementara rakyat semakin kurus dan ceking. Perut mereka sudah semakin melimpah ke kiri dan ke kanan. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang rakyat mau saja dibodohi, atau sebenarnya mungkin memang bodoh, dibujuk dengan gula-gula rasa jeruk. Manis yang hanya sesaat, pahit yang menahun. Padahal, kalau saja rakyat sedikit cerdas menolak gula-gula, para penyihir pasti merengek-rengek agar mereka mau menerima gula-gula rasa jeruk itu. Tak perlu heran jika melihat penyihir seperti mabuk, mabuk harta dan kekuasaan. Mereka seperti selalu kelaparan. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak pernah merasa cukup. Aneh tapi sudah biasa. Jangan-jangan mereka sendiri sudah lupa kalau mereka juga adalah rakyat jelata, dulunya.

(source image: google.com)

Novel – My Dreams Will Come True [Enam]


Musim hujan bulan ini cukup ekstrim. Beberapa lokasi dilaporkan mengalami musibah banjir. Meninggalkan luka di hati, dan sampah di lingkungan. Sampah plastik, sampah masyarakat, lumpur dan tanah, serta tissue bekas. Hari itu, entah bagaimana, hanya ada dua sapi di peternakan berkelas di kota yang juga korban banjir. Sebenarnya peternakan itu belum layak dapat bintang, meskipun punya fasilitas kolam renang untuk sapi, tapi kamar ganti dan kamar bilasnya sebelas-duabelas dengan tpu, tempat pemandian umum di negara kerbau. Diskusi ringan baru saja diakhiri dari dalam kamar ganti antara dua sapi. Sapi yang buntutnya panjang berjalan keluar meninggalkan sapi buntung yang sibuk mengumpulkan tissue bekas yang berserakan di lantai dengan mulutnya, diantara lumpur dan sampah sisa banjir. Sapi berbuntut berjalan melenggak-lenggok memamerkan pantat hitamnya bak model catwalk, melintasi kolam renang, menuju kandangnya. Ekornya yang panjang disibakkan hingga menggantung di pundaknya, yang membuat iri dan decak kagum si buntung. Tak lama pintu kandang terbuka. Si ekor panjang berjalan keluar, dengan kepala mendongak ke arah langit. Seperti anjing jantan angkuh yang berlagak penguasa wilayah, ia mulai mengambil posisi kencing, ke arah kolam renang. Dia lupa, kalau dia adalah seekor sapi, bukan anjing. Si buntung menjadi geram, ia lalu menarik ekor si angkuh ketika berada di kamar bilas. Si angkuh sontak marah-marah tak jelas. Sapi Tidak Wajib Bunting.

(source image: google.com)

Novel – Grand-Grand [Enam]

nenek

Nenek bukanlah manusia unik yang harus kami elu-elukan. Dia hanya orang baik. Keinginannya sangat sederhana. Dia hanya ingin kami selalu menjaganya. Memadamkan kekhawatirannya. Membuatnya selalu merasa tenang ketika duduk, diam, dan berjalan. Hingga dia dapat merasakan bahwa kami adalah sumur kebahagiaan hidupnya. Sementara kami  terlalu sibuk dan berputar dalam lingkaran hidup kami masing-masing. Dia pernah berpesan begini kepadaku, “Tidak ada gunanya kita bersusah payah siang malam bekerja, jika kita sering melupakan ibadah, sering meninggalkan sholat”. Seperti menggali lubang-lubang di gurun, dimana mata air yang diharapkan hanyalah sebuah mimpi. Bahkan angin yang memenuhi lubangnya sudah tidur terlalu lama. “Kita hidup harus seimbang. Gunakan semua indramu untuk selalu bersyukur kepada-Nya”.

[source image: google.com]

Novel – Galaksi [Sebelas]

cahaya-bulan-purnama-bikin-susah-tidur

Aku terkejut, ternyata pasir bintang juga bisa mempunyai rahasia-rahasia. Bersama cahaya bulan, mereka menjaganya dengan sangat baik. Dia memberitahukanku untuk berhenti mengejar galaksi, mengejar mimpiku. Karena aku seperti orang yang tidak waras kalau memikirkannya, meskipun itu sungguh menyenangkan hati, membuat merasa sangat bahagia saat memandangnya, lalu berubah sedih. Tetapi inilah rahasiaku, yang kusimpan di dasar kalbu. “Aku cukup puas”, bantahku kepada padang pasir, ketika perasaan ketidakadilan ini mulai muncul di kepalaku, menari-nari dengan tarian yang berbahaya. Aku melihat dia tertidur di hadapanku, sambil memangku salah satu planetnya yang manja. Dia memiliki banyak hal yang lebih berharga, daripada sekedar merasakan hatiku yang rapuh karenanya. Hatinya sudah dipenuhi dengan kesetiaan pada cahaya matahari.

[source image: google.com]

Novel – Galaksi [Sepoeloeh]

mendung

Aku sadar betul, saat ini kami hanya berteman. Tidak kurang, juga tidak mungkin lebih. Meski begitu, perhatianku padanya sangat menyeluruh. Bulu matanya yang lentik, yang mencakar-cakar udara malam ketika berkedip, membuatku salah tingkah. Memikirkan senyumnya setiap sebelum tidur dan bangun tidur, seperti merasakan mendung tanpa harus menatap langit, membuat galau, tapi sangat dirindukan oleh padang pasir. Kalau boleh, setiap minggu aku ingin mengunjunginya di langit sana. Rasanya seperti berabad-abad kalau beberapa hari saja tidak bertemu dengannya, karena setiap hari kami sibuk masing-masing. Aku sibuk menjahit awan yang dikoyak petir, sedangkan dia sibuk mengatur planet-planetnya agar tidak merengek-rengek. Sebentar saja dia sudah tiba di pasar traditional, membeli tepung bintang.

(source image: google.com)

 

Novel – Galaksi [Sembilan]

nike-sea

Ketertarikanku padamu bukanlah sebuah kesalahan atau dosa. Kadarnya bertambah terus setiap waktu, dan secara biologis selalu mendidih setiap berdekatan denganmu. Sejujurnya, perasaan ini tidak terjadi pada setiap orang yang pernah dekat denganku, ataupun yang aku dekati. Hanya pada orang yang benar-benar kusenangi. “Mau minum air laut?”, dia menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ditolak olehku si pecinta samudera. Sulit kupercaya, akhirnya kami duduk begitu dekat, hanya bersebelahan pulau. Rasanya jantungku berhenti berdetak saat itu. Sambil menikmati aroma air pasang, kami mulai mengobrol. Inilah saat-saat yang aku tunggu. Dia mendengarkan cerita-cerita sederhana yang aku lemparkan. Bahkan dia melihat mataku dengan baik, dan tersenyum manis. Perlahan akhirnya kami menjadi sangat akrab.

(source image: google.com)